indihe

indihe
ga peduli banyak yg liat, yg penting udah sah, hehehhe

Minggu, 09 Desember 2007

Gandrung Nulis Gandrung Suami, Pilih Mana?

by seo lalita

Bismillahirrahmanirrahim, mengawali tarian jemari yang telah lama tak mengekspresikan dirinya di atas panggung monitor. Seolah berusaha bangkit, atau memaksakan diri untuk bangkit demi sebuah cita-cita untuk menjadi seorang penulis. Rasanya jari-jari ini telah kaku, dan pikiran ini telah kelu untuk bertutur seperti dulu. Telah terlalu lama diri ini memvakumkan diri dari menulis. Entah sengaja atau tidak, tapi rutinitas rumah tangga sangat pantas diakui menjadi salah satu faktor kemunduran itu. Tentu hal ini tidak diinginkan siapapun, bagi seorang saya, ataupun bagi suami saya.

Sebelum menikah, terlebih ketika proses perkenalan kami ternyata saling ”ketahuan” bahwa kami sama-sama suka menulis, terbersit harapan bahwa kelak setelah menikah aktivitas menulis maupun cita-cita untuk menjadi penulis dapat semakin terarah. Rupanya saya perlu menganalisa penyebab tidak tercapainya harapan tersebut, demi sebuah perbaikan diri.

Suami saya sangat mendorong saya untuk menulis, bahkan dia membuat sebuah peraturan untuk wajib menulis satu halaman setiap hari. Ketika peraturan itu digaungkan, saya serta merta menyambutnya seperti ketika para pejuang seluruh negri menyambut proklamasi dengan gegap gempita. Saya menulis dan menulis. Satu dua hari, saya sisakan waktu di siang hari untuk menulis. Namun apa yang terjadi? Saya merasa seolah dipaksakan. Tulisan saya semakin kehilangan ruh “lalita”.

Keadaan itu justru semakin memperburuk mentalitas menulis saya. Semakin mundur adalah pilihan tanpa pilihan. Saya kembali harus belajar menganalisa dan mengkritisi diri saya. Tidak hanya semalam, hampir dua bulan waktu saya habis untuk berfikir, dan hari ini 1 oktober 2007 22.59wib saya menyimpulkan, bahwa jam biologis saya telah terlanggar.

Ya, jam biologis menulis saya. Sebelum menikah, di jam-jam seperti inilah saya berkhalwat dengan seperangkat pc di depan kamar, ditemani secangkir teh hangat atau kadang malah segelas sirop dingin. Saya produktif saat bintang-bintang semakin terang hingga akhirnya kalah oleh sang fajar.

Setelah menikah semua itu berubah, saya nyaris tak punya waktu untuk menyendiri, memusatkan perhatian dan memikirkan detile peristiwa yang saya alami. Seolah episode hari ini hanyalah rutinitas tanpa arti, padahal setiap detik, setiap menit kelak akan dimintai pertanggung jawabannya. Tahukah kenapa Allah meminta pertanggung jawaban dari setiap detik hidup kita? Menurut saya, salah satu hikmahnya adalah karena setiap detik menyimpan arti, dimana detik adalah bagian dari proses dari setiap amal baik maupun buruk.

Mungkin ini namanya gandrung, kasmaran, jatuh cinta. Sehingga semua alam sadar maupun tak sadar diri ini selalu berorientasi kepadanya. Aura penganten baru yang kami jalani 3 bulan tanpa diawali proses pacaran sebelumnya ini menjadi euforia dalam diri saya. Sedetikpun sesungguhnya saya tidak ingin jauh dari kekasih saya. Buat seorang wanita, perasaan seperti ini sangat logis. Tapi bagi seorang pengusaha, seorang penulis, hal ini sangat tidak produktif.

Entah sudah berapa kali suami saya memotivasi saya agar mau menulis lagi, apa jadinya jika dia sudah patah arang menyemangati saya? Tentu saya tidak akan sempat mengalami titik balik dari kevakuman ini.

Akhirnya kata Alhamdulillah lah yang berkali-kali memenuhi jiwa. Karena meski terlambat, ternyata saya akhirnya menyadari bahwasanya suami saya banyak benarnya, cuma cara dia menyampaikan sentilan-sentilan itu kurang mengena, atau malah yang disentil yang kurang peka?

Gandrung nulis yang menjadi kecintaan saya sebelum menikah dan gandrung suami sejak menikah bukanlah sesuatu yang perlu di versus-kan, karena pada kejelian yang layak, kedua hal itu justru mampu dikolaborasikan sebagai suatu fondasi yang kokoh, sebagai modal bagi seorang penulis, maupun sebagai perempuan wirausaha.

Jika demikian, menjadi seorang pengusaha, penulis dan keutamaan sebagai ibu rumah tangga adalah suatu yang niscaya digenggam secara bersamaan jika mampu mengkolaborasikannya, bermula dari cara pandang kita, kemudian kita ejawantahkan pada detik perilaku kehidupan kita. Saya ingin seperti Khadijah!